Pernah saya bertanya kepada
seorang teman tentang penggunaan krama inggil atau bahasa Jawa halus orang
orang Banyumas dan sekitarnya yang berbahasa ngapak ngapak terutama, ketika
berbicara dengan orang yang lebih berumur. Jawaban teman saya waktu itu
“Kayaknya ngga ada lho Wan, wong saya juga ngga pernah basa sama orang tua saya. Kalo basa malah rasanya wagu.” Pertanyaan
saya diawali dengan perhatian saya pada teman teman ketika berbicara dengan
orang yang lebih berumur dengan bahasa yang sama dengan ketika mereka berbicara
dengan teman sendiri. Beberapa teman justru bilang: “Lah memang sudah adate
kaya gitu ko, kasar.”
Blakasuta, adalah prinsip yang orang
Banyumas sebut. Open mind, straight forward dan egalitarians. Selain itu juga
pertanyaan saya berdasarkan perbandingan saya ketika saya di Solo. Saya melihat
seorang kernet angkot mempersilahkan orang yang lebih tua untuk masuk ke
angkotnya dengan nada yang lemah lembut dan dengan krama inggil yang enak
sekali didengar. Dibandingkan dengan kernet angkot Purwokerto yang tidak
perduli muda tua laki laki perempuan, dengan lantangnya bicara ‘kasar’.
Kesimpulan saya waktu itu memang
mungkin orang orang Banyumas tidak memiliki krama inggil, atau kalaupun memang
ada, hanya dipakai oleh orang orang tertentu yang mungkin dari kalangan
priyayi. Hal ini bisa jadi karena ke
engganan kaum muda untuk belajar dan menggunakan krama inggil sehari harinya
dan memilih menggunakan bahasa Indonesia yang dianggap lebih sopan daripada
krama Inggil sendiri. Buat Anda yang pernah tinggal di daerah Ngapak (Banyumas
dan sekitarnya), seberapa seringkah anda mendengar anak muda umur belasan atau
kurang berbicara krama inggil ke orang tua mereka? Hampir tidak pernah kalau
saya. Mungkin karena pergaulan saya yang kurang beruntung sehingga saya tidak
pernahmendengar teman teman saya
berbicara dengan krama inggil ke orang yang lebih berumur? Saya rasa tidak.
Karena saya berfikir tata krama tidak mengenal kasta, lseperti contoh kernet di
Solo, meskipun faktanya tidak seperti
itu. Mengacu pada tulisan saya seblumnya yang mengutip bahwa Banyumas termasuk mancanegara yang berarti jauh dari keratonan yang menggunakan bahasa krama inggil. Lagipun teman teman saya berasal dari sekolah unggulan daerah ini dan
Unsoed yang merupakan satu satunya Uni negeri di daerah ini.
Saya tidak membahas penggunaan
bahasa di kegiatan formal seperti pernikahan karena itu bukan bahasa sehari
hari. Toh juga tidak banyak orang yang mudeng bahasa seperti itu sepenuhnya
terutama anak muda. Jadi bisa dibilang sebenarnya bahasa Banyumas hampir sama
dengan bahasa yang dipakai di Negara-negara barat yang kecuali “dengan pak, bu,
mba dan mas”nya yang tidak mengenal hirarki umur. Begitu juga dengan bahasa Indonesia.
Saya sadar betul bahwa semua
bahasa di dunia ini mengalami degradasi, kalau kita bisa menyebutnya demikian,
bahkan bahasa internasional itu sendiri. Pengaruh dari berbagai Negara dan
berbagai bahasa menjadi salah satu unsurnya dan migrasi dari Eropa ke benua
benua penemuanseperti Amerika, Australia,
dan Africa Selatan. Awalnya semua
bahasa Inggris dari Inggris dan sekitarnya, haha, tentu saja. Tapi
begitu mereka menemukan ‘pulau-pulau baru’ bahasa mereka pun berubah meskipun
tidak total. Setidaknya dialect dan
beberapa frase saja.
Generasi merupakan pengaruh yang besar bagi perubahan Bahasa juga. Kalau
kita lihat di hampir semua bahasa daerah di Indonesia, anak mudanya cenderung
berka’bah ke Jakarta sebagai Mekahnya gaya dan gengsi. Nggak tau apa yang
mereka lihat dari crwodedconcrete jungle itu. Penggunaan Elu dan
Gua sepertinya wajib ditambahkan dalam bahasa mereka. Tak kalah pula bahasa
Bali yang terpengaruh. Lucu memang mendengarnya ketika anak muda Bali berbicara
bahasa daerah ber Elu-Gua dengan dialek Balinya. Lebih lucu lagi bahasa Ngapak
yang terpengaruh. Beberapa teman saya berceloteh melucu: “Gyeh Wan, kemaren gua liat Paijo Hondahan pelan pelan di prapatan, trus
gua panggil panggil sampe mbengok mbengok ko ngga nylingak nylingak. Eh ga
taunya kupingnya lagi pake ipod. Gua ya jadi celilian sendiri.”
Kembali ke krama Inggil, memang anak muda sekarang lebih memilih
menggunakan bahasa Indonesia kepada orang tuanya daripada krama Inggil yang
lebih enak didengar. Tidak bisa menyalahkan generasi muda saja, orang tua juga
mereka tidak perduli apakah anak anak mereka bisa berbahasa krama inggil atau
tidak, jadi ya wis.
Hal menarik ketika saya mencoba menggunakan bahasa krama inggil di
mailinglist berbahasa ngapak dan saya membuat satu kesalahan, saya disebut
tidak punya unggah ungguh. Ironis.
Penulis mengharapkan koreksi dan masukan atas kesalahan yang mungkin dibuat. Terimakasih.
Tulisan mas Irawan sangat bagus dan saya yakin itu berdasarkan dari penelitian dengan banyak responden
Cuma mungkin dari sekian banyak responden itu belum mewakili populasi yang ada di Karesidenan Banyumas itu sendiri
Saya sangat sedih, karena dianggap Krama Inggil itu tidak ada di Banyumas, saya sendiri sekarang tidak mau untuk tidak berbahasa Krama Inggil ke orang tua saya dan orang-2 Banyumas di sekitar saya
Sekedar info, saya lahir dan besar di Wiradadi, satu desa di Sokaraja, dan sudah 6 tahun saya di Batam, tapi tetap masih fasih Krama Inggil
Sebenarnya inti tulisan sebaiknya memberi spirit pada anak muda untuk mau dengan sukarela belajar dan menggunakan Krama Inggil ini
terima Kasih
Nggak penting mau dibilang tata krama, krama inggil dan seterusnya... Setiap daerah memiliki karakter dan kelebihannya masing2. Gak perlu saling ngejek. Jalani aja hidup masing masing dan bangga kepada daerahnya masing2
Pendapat Bapak/Ibu/Saudara/Saudari sekalian ada benarnya...
Yang ingin saya bagikan adalah... sebenarnya tidak dapat dipungkiri, jika suatu bahasa entah halus entah tidak, jika tidak ada peminatnya, maka terima atau tidak terima suatu saat akan 'punah'...
jadi menurut saya, kemungkinan akan punahnya bahasa 'krama inggil' suatu saat pasti ada..
Sekarang bagaimana caranya kita melestarikan bahasa itu ... bukan dengan memaksa ya? tetapi mungkin lebih cocok dengan istilah 'Seni'
dimana mirip dengan situasi ' seni bela diri ' yang sudah lama hilang dari dunia, hanya satu atau dua orang yang menguasainya...
demikian juga bahasa krama inggil ini, suatu hari nanti hanya beberapa kaum saja yang menggunakannya turun-temurun. Sementara ketika mereka menggunakannya kepada orang lain, orang lain tidak mengerti...
maaf jika kata-kata saya ada yang salah ya... trima kasih.. matur nuwun atas waktunya...
saya sependapat dengan mas/pak kura-kura mengenai punahnya suatu bahasa. memang tidak dapat dipungkiri bahasa apapun, dan bahkan tidak hanya bahasa, pati akan punah termasuk bahasa krama inggil. cuman yang perlu kita pahami disini adalah bagaimana kita menjaga atau paling tidak menahan mundur kepunahan bahasa itu sendiri yakni dengan terus melestarikannya. karena seperti yang mas kura-kura katakan tanpa penutur (asli)nya bahasa itu tidak akan bisa bertahan.
Trimakasih mas Ali... sebenarnya meski penutur asli bahasa itu tidak ada, namun bahasa tsb masih bisa dilestarikan. misalnya ada Kamus Besar Bahasa Indonesia... Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan... Tata Bahasa Indonesia...
Tepat... dibutuhkan suatu Kamus Bahasa "Jawa Ngapak / Krama Inggil, Tata Bahasanya" yang bisa disimpan, digandakan, dan dipelajari... dengan demikian generasi berikutnya dapat dengan mudah mempelajarinya sebagaimana layaknya bahasa Indonesia...
tulisan Mas Irawan sangat menarik. kebetulan sy penutur asli "Dialek" jawa ngapak yg jg lama tinggal diJogja. bicara dialek (sy sebut dialek bukan bahasa karena ada perbedaannya SIlahkan lihat Bukunya Ronald Wardhaugh atau Holmes TTg SOciolinguistics)ngapak apaka punya krama inggil atau tidak secara ilmiah sy tdk punya bukti historis, namun bukti empiris ada. diwilayah saya dan sekitarnya anak kecil (semenjak br lahir)hanya diajarkan bahasa krama inggil. hanya saat sekrg sj sebagian mengajarkan bhs indonesia jg. Bila dikatakan dialek ngapak tdk pnya krama inggil kurang bs diterima karena faktanya memang ada. namun kembali pada individu msg2. mgkn kebetulan Mas Irawan mampir diwilayah Banyumasan yg mayoritas tdk mengajarkan krama inggil. jk ingin data lebih Mas Irawan bs mampir ketempat saya Pemalang bag selatan kc Belik. disana krama inggil msh diajarkan dari usia anak kecil agar ketika dewasa sdh lancar. image kasar atau tidak bergantung dr mana kt berasal apakah dari daerah dg penutur ngapak atau bukan. menariks ekali jk kt semua bs terus berrdiskusi soal bahasa. demikian komen saya
Terimakasih Pak Ali. Iya, mungkin kalau di daerah Pemalang sangat berbeda. Memang selama ini pengamatan saya hanya di daerah Purbalingga, Cilacap dan kabupaten Banyumas saja yang lebih memilih berbahasa Indonesia dibandingkan krama inggil.
saya lahir di purbalingga, besar di wilayah kab. banyumas. Sampai saat ini, saya tidak berani bicara ke orang tua saya tanpa menggunakan krama. Sebenarnya tergantung pada bagaimana lingkungan (terutama orang tua kita) mengajarkannya semenjak kecil. Memang sekarang banyak pasangan-pasangan muda yang lebih senang mengajarkan anak-anak mereka langsung berbahasa indonesia, dengan alasannya masing-masing, meskipun mereka tinggal di wilayah banyumas dan sekitarnya (bukan perantauan).
mari kita sama-sama budayakan bahasa ngapak dan budayakan masyarakat kita untuk terus menjaga bahasa ini agar tidak punah. saya orang yang sangat khawatir terhadap kepunahan bahasa terutama bahasa ngapak yangs udah mulai ditinggal penutur aslinya.
Basa Ngapak kuwe paling perek maring basa Sansekerta (Sanscrit) sing dadi cikal bakale basa jawa. Neng basa Sansekerta kuwe langka krama utawa krama inggil. Mung sebab perkembangan jaman, ratu jawa lan keluargane gawe tata basa dewek nggo mbedakna deweke karo rakyat cilik. Wektu semono mbokan rakyat cilik kudu nglangsur nek arep ketemu ratune utawa wong sing nyebut deweke priyayi. Kebeneran tlatah Banyumas kuwe madan adoh sekang mataram, dadi ora kejajah suwe. Mulane akeh basa sing esih asli tur mirip banget karo basa sansekerta. Kiye miturut wacananku lho, sing ngomong ahli sejarah sekang belanda, kebeneran nyong duwe bukune. Mayuh pada kumpul neng http://inyongblakasuta.blogspot.com/
waduh, nyong keri kye
mas sing fotone ana neng nduwur tulisane kayong mandan nyepeti mata koh
jan, nek rep nggawe tulisan tulung dipikir disit mas lah
ngati-ati...
nggane ketemu nyong tuh...
pangapura melu urun rembug :
sepengetahuan saya, yg namanya bahasa merupakan suatu hasil dr kebudayaan..
budaya merupakan hasil dr pemikiran, tingkah laku dr manusia...mengacu pd letak geografis dmn orang tsb tinggal maka akan meghasilkan budayanya sendiri2..
karena hal tsb merupakan hasil dr pemikiran manusia dan kemudian diimplementasikan dlm kehidupan sehari2, berinteraksi dgn manusia lain maka hl tsb mjd terinternalisasi oleh org / kaum tersebut..
seiring berlalunya waktu, maka org dpt menilai mana budaya/hasil pemikiran atao tingkah laku yg boleh atau pantas dipakai dan mana yg tidak..
jd sebenarnya tidk perlu kita menghakimi bhw budaya kita paling benar atau paling atau budaya org lain salah atau lebih jelek..
biarlah org lain dgn budayanya dan kita dgn budaya sendiri...yg lbh penting utk dipedomani adalah bgaimana kita menghargai keber-bedaan org lain dgn kita dgn tdk saling menyalahkan atau menjelek-jelekan..
saya cita budaya banyumas,,dan saya juga akan mengagumi budaya daerah/org lain..
suwun...
Lha iki melarang orang wetan menjelek njelekkan bahasa Banyumas malah dirinya menjelek njelekan mereka.... apa ya enggane wateke wong Banyumas kaya kuwe mbok ora????
BUKTI-BUKTI ILMIAH MENUNJUKKAN BAHWA DIALEK BANYUMAS ADALAH DIALEK BAHASA JAWA TERTUA. JADI.....KALAU ADA ORANG JAWA WETANAN MENJELEK-JELEKAN DIALEK BANYUMAS, ITU SAMA ARTINYA MENJELEK-JELEKAN BAHASA NENEK MOYANGNYA SENDIRI. JADI.....SILAKAN BIKIN BAHASA SENDIRI, JANGAN GUNAKAN DIALEK BANDHEKAN, KARENA PADA DASARNYA DIALEK BANDHEKAN BERASAL DARI DIALEK BANYUMAS JUGA. KOK BISA SEGA DADI SEGO, LUNGA DADI LUNGO, JAAAN...
Seiring kemajuan zaman, bahasa Jawa akan kembali seperti semula seperti zaman dahulu kala, tidak mengenal tingkatan. Pada akhirnya, krama inggil sebagai hasil budaya keraton akan punah, karena kurang praktis, dan nyata nyata bahasa bikinan yang sengaja dibentuk orang orang yang memakai dialek bandhek. Adapun tujuan orang orang bandek membuat bahasa krama inggil yaitu untuk mengangkat derajat mereka sendiri, pendukung budaya surakarta, yogyakarta, untuk menunjukkan kepada golongan orang Jawa yang lain bahwa mereka lebih berbudaya. Tapi...seiring berjalannya waktu, alam menunjukkan bahwa lama lama juga krama inggil akan punah, dan bahasa jawa akan kembali menjadi bahasa JAWA DWIPA alias BANYUMASAN GEL! Bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa: BAHASA JAWA TERUA ADALAH DIALEK BANYUMAS. Sehingga jika orang wetan menjelek-jelekan dialek Banyumas, itu sama saja artinya MEREKA MENJELEK-JELEKKAN BAHASA NENEK MOYANGNYA SENDIRI. Silakan cari bahasa yang lain, jangan gunakan dialek bandekan yang ala boa itu, karena pada dasarnya dialek bandek berasal dari dialek Banyumas juga.
Aja mbandingna kenek angkot nang solo karo nang purwokerto kang aja menilai kasar apa alus nganggo cara kaya kuwe. Solo karo banyumas beda, dadi bisa disebut lain ladang lain belalang. Jere wong solo wong banyumas ngomonge kasar, jere wong banyumas wong solo ngomonge klemaer klemer, sekelorone mesti ora rumasa kaya kuwe, sementara wong inggris lagi ngarani dewek kaya "koloan sapi di cemplungna belet" malah dhewek mesem mesem karo ngomong tengkiu, ora ngerti lagi di nyek. Mulane pahami bahasa sekang wilayahe, aja mbandingna apel karo nanas, apel ya karo apel. Bahasa solo mungkin alus, tapi mesti juga ana kasare. Jajal si kumise dijambak, mesti metu kasare. .
Bahasa banyumas ya nggo wong banyumas, nek wong solo krungu ya kudu maklum, sampean tau ngerti bahasa okem ??? kasar apa alus ???!!!
Ngawur ! nang banyumas krama inggil ya ana, Sing ora nganggo krama inggil ya anu sing ora nyinaoni. tapi ora njlimet kaya nang kraton, sedek arep macul.
Nek nang komunitas penginyongan sing umume padha drajate (biasane umur)ya blaka suta jeplak jepluk. Nek sing ngomong Banyumas batake Jawa, SALAH !!!, sing bener : Batak banyumase sumatra.
Wong banyumas nek ngomong dadi lucu kuwe sebab maca nulis blaka apa anane, alias jujur. Wis nasibe wong jujur dadi guyonan, wong korup dadi sugih
Senang sekali saya baca forum ini... Saya salah satu pengagum banyumas, baik budaya, bahasa ataupun kesenian. Urun rembug nggih...
Sejauh saya dolan2 ke BAnyumas sih, beda tempat beda... purwokerto beda dengan cilacap, beda lagi dengan BAnjar negara... Ada wilayah (tidak semua) yang agak condong ke jawa tengah, sehingga wilayah tersebut lancar krama inggil(mestinya dengan gaya nya sendiri)
Banyumas sangat menarik dengan keberagamannya...
berbanggalah sebagai orang bAnyumas, dari sinilah kebudayaan jawa keseluruhan bisa diusut...karena bahasa sumbernya kebanyakan adalah bahasa jawa kuno. Banyumas lah kuncinya...karena bahasa sehari-hari Banyumas masih banyak menggunakan bahasa Jawa kuno (Budiono heru satoto pernah menulis tentang pengelompokan bahasa BAnyumas)
out dari konteks sebentar, Sayang nya,pada saat saya bertemu dengan para muda nya yang seumur saya, Justru mereka jarang mengerti tentang wilayahnya sendiri... Padahal BAnyumas menurut saya adalah wilayah yang kaya budaya,kaya dalam kesederhanaannya...!!
mulane pada sinau budaya banyumasan, udu wong banyumas be pada reang.
kawit ganu jenenge watek satriane wong banyumas kue ora tau ilang.
bebasan satria nengendi2 atos, karo kasar, ora ndeleng endi sing priyayi endi sing udu, anane sing bener karo sing salah.
langka wedine maring sing jenenge priyayi, mulane endi sing bener ya kue sing diregani.
TIM PENYUSUN BASA BANDHEK ELEK BOEK KAE PANCEN TUJUANE MOJOKNA BUDAYA BANYUMASAN SING PANCEN ADOH KANG KRATON...KUWE KAN BASA GAWEAN NEMBE WINGI SING DIGAWE NANG WONG KRATON, MASA WIS JELAS JELAS APA DADI OPO, SEGA DADI SEGO, NAGA DADI NOGO, KAREPE KUWE APA?
SEDULUR, PADHA NGERTI APA ORA KENANGAPA ANA GEMPA JOGJA TAUN 2006? KUWE AKIBAT WONG JOGJA SENENG NGECE WONG BANYUMAS JERE BASANE NDESANI SI.....JUJUR PADHA KUWALAT.PERNYATAAN BAHWA BASA BANYUMASAN KUWE KATRO JANE KUWE MUNG OPINI SING DIGAWE NANG TIM PENYUSUN BASA BANDEK SING ELEK BOEK KAE....
ha..ha sedulur2 kabeh aja ribut sing penting inyong pada sehat gole ngomong dadine bisa de ngertene sapa bae.ujare inyong tah dadi wong asli banyumas ya deneng tekan siki alhamdulillah teyeng semending 2 basa krama.jan jane tah wong tuwa inyong pada sing marahi.arep ngomong krama,ngapak,indonesia,apabaen sing apik ya sikap karo gole ngomonge sing beda mbok.semono omonge inyong mbok ana klirune ya njaluk ngapura kabeh.
sakleresipun wonten kabuapaten banyumas ugi masih wonten ngoko, krama lan krama inggil, nanging praktekipun panci sampun kacampur kaliyan bahasa jawi wetan lan bahasa indonesia sesarengan kaliyan kawontenan kita purwokerto ingkang sampun kathah 'pendatang'ipun. kawula lahir dumugi sma wonten purwokerto, wonten jkt sampun langkung 20 tahun.
Basa Jawi banyumas dumugi dinten punika masih kathah ingkang praktek, kelebet ing keluarga-keluarga banyumasan ing jakarta. karakter 'cablaka' mugi tetep dados cirining putra banyumas. Mangga, kula bade nggado mendoan nggih, nuwun
SIJI MANING MASALAH SING MBUKTIKNA WONG WETAN NGAYOGYAKATRO KARO SUROKATRO, LAN WONG JOWO LIYANE SING NON BANYUMAS, BENER BENER KUCLUK LAN BEGU, YAKUWE;
-TEMBUNG ORA, KENANGAPA WONG WETAN NGUCAPNANE TETEP ORA, NEK PANCEN KONSISTEN KAN KUDUNE DIUCAPNA ORO, KAYA SEGA DADI SEGO, APA DADI OPO,
HAYUH NGONOH........
SAPA WANI DEBAT KARO INYONG, AYUH TEK LADENI, PROFESOR AHLI BAHASA UGM? UNS? UNDIP?
DADI BASA JAWA SING BAKU LAN ORA DIGAWE GAWE KAN YA BASA JAWA BANYUMAS, UDU MATARAMAN.....NEK MATARAMAN KAYONGE KAYA MEKSA TUR NGOMONGE DIGAWE GAWE ...
WONG WETAN KAN SEBENERE SING KATROK, NDESANI, PELIT, MUNAFIK, WIS WANCINE BALIK MANING MARING BUDAYA JAWA SING ASLI, SING ORA KEPENGARUH SISTEM KASTA SEKANG HINDU INDIA. GANYANG MATARAM!!!!!
wah wah... saderengipun, kulo nyuwun ngapunten, kulo sanes tiyang jawi, kulo tiyang bugis saking sulawesi... nanging kulo remen sanget sinau boso jawi wetan ugi boso jawi banyumasan...
mungkin kalo orang jawa wetan mendengar bahasa orang jawa banyumasan menganggapnya lucu, atau sebaliknya... Tapi bagi saya, sebagai bukan orang jawa, inilah keragaman bangsa kita yang tidak ternilai harganya...
Sekarang saya lagi kuliah di jogja, dan saya selalu menyaksikan acara di jogjaTV, ada acara berita yang menggunakan bahasa banyumasan "Inyong Siaran".... ada juga berita yg menggunakan boso jawi ngoko lan kromo inggil..... saya sangat senang menyaksikan ketiga acara tersebut, karena memiliki kekhasan masing2... dan tentu saja harus tetap dilestarikan demi menjaga keragaman bangsa kita.... Jadi teringat kalimat "Aja isin diarani ngapak" dan "aja ngece wong ngapak"... Matur nuwun, ngapunten menawi kathah ingkang lepat...
ORA PRELU KROMO KROMOAN, WIS ORA JAMAN, WONG ASLINE BASA JAWA YA MUNG SETINGKAT THOK, JAWADWIPA/BANYUMASAN....NEK SING ASLI WONG JAWA YA MUNG WONG BANYUMAS MBOK, WONG WETAN KUWE UDU WONG ASLI JAWA, TAPI JOWO....WONG GENAH GENAH SEGA DIARANI SEGO, JAWA DADI JOWO, WIS KAYA KUWE SENENG NGECE WONG BANYUMAS MANING....JANE SAPA SING BEGU? JAN KUCLUK TEMENAN WONG WETAN YA???? SING MAREKNA ANA BUDAYA KOLUSI KORUPSI KUWE YA BUDAYA KRATON SING LADA LEDE
Kang Irawan asline pundi sih ? Kulo niki asli tiang Banyumas nanging saiki teng SUMSEL, tapi menawi kepanggih kali tiang Jawi Nggih tetep kromo inggil, Kulo mboten setuju pendapat panjenengan menawi tiang Banyumas mboten wonten kromo inggil, kawit SD menawi ngendika kaliyan bu guru nggih ngangge kromo inggil, kalih tiang sepah, kalih tiang sing dereng dikenal, Kang Irawan menawi nulis ampun sembarangan kedah diteliti
lebih lengkap, menawi wonten kantor lan liyo liyane, ampun asal nulis.......... natur nuwun.....
inggih panci leres bilih basa jawi menika wonten,tingkatanipun, menopo ingkang
pun wastani, unggah ungguh, bilih panjenengan bade ngendiko kalian
piyantun,ingkang langkung sepuh,mestinipun ngagem boso jawi ingkang, kromo
inggil. dados menawi mboten ngagem kromo inggil , meniko namung amargi,kebiasaan
kemawon ,monggo sesarengan nguri uri boso jawi.dados mboten sami nyalahaken
pundi ingkang leres menopo salah,seje desa mowo caro.
Saya paling ga terima kalau bahasa Banyumasan dibilang kasar, kita cuma punya nada bicara yang lain dari bahasa jawa yang lain. Selain nada bicara yang beda, dan kecepatan pengucapan kata2, sebenarnya perbedaan dengan bahasa jawa di tempat lain hanya pengucapan huruf vokal saja. Dan menurut saya itu bukan sesuatu yang kasar, jadi perlu diingat bahwa bahasa Banyumasan sama sekali tidak kasar. Saya juga tersinggung jika ada yang menyebut bahasa Banyumasan dengan istilah "ngapak", dan menurut saya itu adalah pelecehan terhadap budaya Banyumas. Ngapak adalah kata ejekan untuk dialek Banyumasan yang dianggap aneh oleh sebagian orang dengan bahasa jawa berdialek berbeda.
Soal krama inggil, Banyumas juga memakai itu kok, buktinya saya dari kecil diajari untuk melakukan itu. Dan tolong diperhatikan bahwa ketika Mubaligh (Kiai) sedang berceramah di desa2, mereka menggunakan krama inggil juga lho...jadi tingkatan bahasa jawa juga tetap berlaku di Banyumas.
Saya terlahir dari Bapak yang asli Banyumas (Purwokerto) dan Ibu yang asli Solo, saya tinggal di Jogja, jadi rasanya komentar yang saya buat ini tidak bersifat objektif. Mohon disikapi dengan arif, terima kasih.
Nek nyilih istilaeh kang Ahmad Tohari -budayawan ngapak- basa banyumas kuwe basa kerakyatan. Mulane ora kenal anggah-ungguh. Kowe madhang, lurahe madhang, bupatine madhang, ning inyong urung madang kiyeeeh... Mbok dijujugi sega apa kepriwe lah. Jarku pada ora denger melas temen...
Bahasa Banyumasan ikang leres nggih kuwi mau,.. krama inggil harus diterapkan mulai dari umur anak sekolah TK. dan mungkin harus masuk ke dinas pendidikan agak diberlakukan harus menggunakan bahasa jawa krama inggil,...
Saya sendiri kalau berbicara menggunakan krama inggil sama orang tua itu malah ditertawakan soale bahasane gak jelas,..
Blakasuta mungkin sekarang yang terjadi di masyarakat banyumas. sungguh sangat di sayangkan ya,...
kangge kulo tiyang ingkang lahir kleres mboten wonten banyumas radi risi, menawi wonten lare ingkang langkung enem matur kalian piyantun langkung sepuh kok mboten mawi kromo inggil.,mila langkung sae ngagem bahasa indonesia, namung inggih malah pun wastani sanes tiyang jawi.bade kados pundi malih wong kawontenanipun kados mekaten , seje desa mawa cara.
nek mboten pitados cobi, midangetaken mawon NjajahDesa Milangkori ingkang diputer teng Radio Dian Swara Purwokerto 98,2 FMsaben dinten jam 16.00-17.00 WIB. Teng ngriku niku ngangge basa Jawa Banyumasan krama. Dados piyambak niki ingkang dados putra putrine Banyumas nggeh kedah nguri-uri kabudayan Banyumasan. Nggeh sekedhik2 tuli saged. Kula niki nggeh tesih sinau koh. Nggeh mboten, kang, mbekayu....
niki nuwun sewu nggih rama,biyung...Jan2jane kula niki nggeh bungah sanget niki wonten forum ingkang kados niki. Nek blakan ngengeti basa banyumasan niku nggeh jane kathah ingkang saged dipun sinaoni. Sedherek sedaya nggeh ngudal rasa miturut penglamane piyambak2. Nah sami mawon kaliyan kula niki ingkang badhe critane niki nggeh berbagai pengalaman. Lha sangertose kula, bhs banyumasan niki wujud saking pemberontakan dening priyayi2 ingkang ngangge basa serba "o". tapi miturut ingkang ngertos kabudayan Banyumasan niku, jane hs banyumasan nggeh wonten kramane.jan niku leres ngapak, tapi krama.
nek inyong tah ket cilik anu dasare bocah pangon ya ora tau basa, ramaku malah ngguyu nek anake (termasuk mantu) nganggo basa krama, jere gatel neng kuping hehehe
walah kuwe..rung apa2 wes salah...ngapunten ya kang ali...jan wirang temenan kiye...dela ya we..dikon mangan ng sihenk...jan2ne y pancen wes kencot si...dela ya...anu nyonk lg ng payungan kiye..pamit ndipit..tek tilik kae lawuhe apa..
Wealah... Pag Babeng, aring ndi baen ndean? Ujagu nggemiyen kho nek aring wong sepuh pinteran gole basa koh ora ketang ditambai duduhnya dowang ...
Matur nuwun wis mampir ngeneh pak Beng, anu pancen rame temenan koh, nyong ndeleng statistik nganggo google analytics lumayan kye sing mampir lah. Suwun juga sedulur liyane.
Anu kae sing nduwur sanes Ali 95 tapite pak ALi Rahmat tiyang Purwokerto ingkang macul teng Jakarte....
(asem...ngetik akeh2 jebule ketugel..mubah2...aduh mau tekan ndi y critane) ora ketang isih gado2...kromo+ngoko+indo+ngapak.jujur baen nyong ra bisa mbedakna ndi kromo,ndi ngoko..mumet..lah ujarku y langka bedane..nek kg ali tah nyong percaya kae..esih muter2 nganggo pit kg ali (eh ..kae nduwur kg ali 95 mbok y? maras mbok wirang,nek dudu ya ngapuntene y kang). ng ngomah aku mung basa maring bapake..kuwe be mulai pas kuliah..mbuh smt pira klalen..basane ya seanane..tek pedot ndipit..mbok ngko ketugel maning
uhueeuhuehue...sory we..nembe tilik..tp jan sumpah ket mau nyong prengengesan dewek maca obrolanne...sumpah we...pinter nemen kowe yah goli gawe rame2...jan briliant temenan...anu mung kaya kuwe buisa duadi ruame...eh ..rame ra yah...basaranu gara2 anu nyong cekikikan dadi krasa rame...nyong re gawe pengakuan kiye...nyong kawit cilik ra tau basa maring wong tuwa..ra diwaraih soale..nyong sinau basa kuwe ng dalan..gara2ne jaman es-ed sering d guyu mbaeh kancaku..lah kancaku nek ditakoni mbaeh"dolan karo sapa kowe?".."kancaku njawab..niki kalih bangkit" giliran nyong sing ditakoni"ko ngeneh karo sapa kit?"..lah nyong njawabe bingung..ra ngerti priwe basane..akhire karo cengar-cengir kisinan nyong njawab"dewekan mbah"...mbaeh kancaku kur cengar-cengir..apa ora wirang sih nyonk..seprene ora kelalen kuwe..padahal anu jaman es-ed..kelas 2 nek ora salah.lah maring eneh tambah tuwa y belajar sithik2...ora ketang dadone ya gado2...campuran kromo+ngoko+indo+ngapak...bukak2an baen..ra teyeng mbedakna ndi ngoko..ndi kromo..nek kang ali tah nyong percaya..deweke akeh bisane...eh kae nduwur kang ali 95 dudu si..ngko basaranu salah wong..ndak diaranii sok kenal...
(Lanjutan) ..ora ketang dadone ya gado2...campuran kromo+ngoko+indo+ngapak...bukak2an baen..ra teyeng mbedakna ndi ngoko..ndi kromo..nek kang ali tah nyong percaya..deweke akeh bisane...eh kae nduwur kang ali 95 dudu si..ngko basaranu salah wong..ndak diaranii sok kenal...
wah..bicara masalah tatakramaning banyumasan..aku asli sragen,tp udah meh 14tahun di pwt..aku dah ngapak,tapi krama di banyumasan bukan diliat dari kata2,tp dari intonasinya..jarku ta kaya kuweh..punten nek salah..
sing inyong tau maca jere banyumas utawa ngapak kuwe malah basa jawa sing sebenere, asline basa jawa ya ngapak, tapi banjur perkembangane meng ngenehe terus dadi beda, lha ngapak isih bertahan, kaya kuwe sedulur, soal egaliter karo kanca-kancane kuwe inyong setuju, ngajeni pancen bisa lewat basa, tapi ora mung kuwe, basane krama alus pisan klakuane pecicilan apa ya maen si
Fenomena yang diceritakan oleh mas irawan, saya alami juga...saya sendiripun masih berdarah banyumas yang diturunkan oleh nenek dari ibu...kalau dalam bahasa "Harry Potter" saya termasuk manusia "berdarah-lumpur" dalam bahasa mereka (lagi2 berkiblat pada orang2 bule disana), berdarah campuran dan bukan darah murni banyumas...okelah tidak ingin lama2 berkutat dengan darah, nanti dikiranya saya mau donor darah. Saya lebih membingungkan lagi kalau dalam masalah bahasa jawa...karena saya hanya pendengar pasif, bukan pembicara aktif...praktisnya sama sekali tidak bisa berbahasa jawa...baik krama inggil maupun bahasa "gaulnya" wong banyumas. Banyak teman2 saya yang asli banyumas, mencoba berakulturasi dengan bahasa betawi...alkisah, jadilah bahasa campuran banyumas-betawi...yang menghasilkan formula bahasa baru...dengan logat dan bahasa yang digunakan jauh dari keasliannya. Bahasa...adalah gerbang komunikasi yang berkualitas, sehingga seringkali pilihan bahasa yang digunakan bisa berpengaruh dalam diterima atau tidaknya seseorang dalam suatu komunitas tertentu... (to be continued)
(Lanjutan..) Bahasa...adalah gerbang komunikasi yang berkualitas, sehingga seringkali pilihan bahasa yang digunakan bisa berpengaruh dalam diterima atau tidaknya seseorang dalam suatu komunitas tertentu...(to be continued..)
Ora ana kuwe sing jenenge basa kromo nang banyumasan. nek ora ngandel, takono profesor ilmu filsafat jawa nang UGM pak Damarjati Supadjar. malah deweke ngomong ngapak kuwe jenis basa sing paling jujur dan egaliter sebab ora ana kelas.
masalahe, ora kabeh wong banyumas sadar bahwa basa banyumas kuwe sebenere justru apik tur ra perlu melu-melu basa jawa standar solo-jogja.
nek ana, kuwe mergane (sebagian) wong banyumas ora pede karo budaya jawa sing dianggep lewih tua lan inggil.
Neng keluargane inyong, kawit cilik wis diwaraih krama inggil. Ibune inyong ganu bangga pisan anring bahasa krama inggile inyong agi cilik. Tapi terus pas jaman SMA Ibune nyong nelangsa jarene bahasa Krama Inggile inyong mengalami kemunduran drastis akibat pergaulan bebas nang sekolahan. Hahahaha
Tapi neng umah ato pergaulan kambi masyarakat Inyong ttp Krama Inggilan kambi wong tuwa koh....Temenan ora ketang siki wis plinthat plinthut.Hehehehe
q ga bs nahan ketawa dan senyum-senyum lihat komentar diatas... yang pasti jadi tambah rindu berngapak ria
di t4 kerja kebetulan bareng dengan orang purwojati jadi bebas ngapak-ngapak tp sering diusilin ama temen-temen yang banyakan sunda...tp qt tetep cuek alias love ngapaklah...
q juga kadang-kadang ga kromo ke ortu bkn ga bs tp dr dl g biasa n ortu ga masalah.. tp bkn berarti ga hormat lho... emang rada belibet kalimatnya... ada yang ku inget pernah salah ucap n malunya ga ketulungan.... krn langsung diralat sama orang yg q sapa ... karena dia orang yogya yang so pasti mahir kromo inggil....
dari semua itu... ngapak whay not??!!! lagian lebih kasaran orang Tegal&Cirebonan lagi.. kl qt bangga dengan bahasa qt (ngapak) tp yg dr cirebon ama Tegal... pengalamanku yang pny teman dr sana ga mau ngakuin bahasanya sendiri...
klo menurut qu yah...munkin krn aq gak bisa krama2an blas...bisane kur ngapak tok lg sekolah tk ya tau ngomonge mandan enggih mboten(tapi kue jaman kapan?...hehehe)ya wis kelalen yah,dadi butul siki ya tetep cinta ngapak.klo lawan bicaraqu gak bisa ngapak ya *kasian de lo*mending pake bahasa internasional aza...
Sakjanipun basa banyumasan nggih wonten krama inggilipun, manawi mboten pitados, sumonggo sami midangatsken adicoro ringgit gagrag banyumasan wonten mriku, panjenengan saged midangetakan basa krama inggig banyumasan, pancen krama inggil banyumasan radi sami kaliyan krama inggilpun piyantun Solo utawi Ngayogyokarto, namung radi anteb kemawon dialekipun, inggig mboten
koq beda ya? di desaku klo ada anak yang gak pake kromo inggil sama yang lebih tua wah...blaen....bisa2 org tuanya yg kena getah dikira gak bisa ngajarin anaknya. di tempet istriku di Malang yg katanya isinya bonek, tapi klo anak muda ke yg tua pake kromo inggil juga.
so...itu tergantung dari kulture di keluarga masing2, ortu-nya pada ngajarin gak?
Lho.. kirain Banyumas juga ada bahasa kromonya.. kan sering denger tuh orang bilang "bade tindak pundi", ngga selalu "arep mareng ngendi" atau penggunaan kata2 mboten, sare, dahar.
Wan, aku jadi bingung baca bahasa Banyumas ngga ada kromonya.. tolooongg.. *megangin tiang*
Jadi kalau Kang Irawan diingatkan oleh seseorang, apalagi itu orang tua, dengan kata-kata yang sopan lagi, diterima saja sebagai bahan koreksi dan jangan dimasukkan hati. Anggap itu sebagai nasehat orang tua terhadap anaknya.
menghormati lawan bicaranya disebabkan karena umurnya ataupun kedudukannya.
Nah, dalam aturan tata bahasa baik karama madya maupun krama inggil itu memang ada aturan-aturannya. Misalnya, kita tidak boleh mengkrama inggilkan diri kita sendiri. Sebagai contoh kalau kita akan bicara kepada orang lain, apalagi orang itu lebih tua dari kita begini :
Kang Irawan, Bahasa Banyumasan itu memang termasuk bahasa yang unik. Kalau orang boleh bilang, Banyumas itu adalah Bataknya Jawa. Bahasa Jawa yang sebenarnya (halus) itu adanya ya di Solo atau Surakarta. Sementara di Banyumas tata bahasa yang ada dan tingkatan-tingkatan bahasa yang ada saya kira lebih berkiblat ke Solo ataupun Jogja (keraton).
Sehingga ada tingkatan ngoko, kromo madya, kromo inggil dsb. Bahasa ngoko biasanya digunakan oleh pengguna yang sejajar atau seumur, sehingga antara pembicara yang satu dengan lainnya tidak perlu ada penghormatan, egaliter. Misalnya pembicaraan antara teman yang sudah akrab. Sedangkan krama madya digunakan untuk lebih menghormati lawan bicaranya dikarenakan lebih tua umurnya atau lebih tinggi kedudukannya, atau hanya sekedar ingin menghormati saja, karena mungkin baru kenal dsb. Sementara krama inggil digunakan oleh kalangan priyayi atau pengguna yang benar-benar ingin menghormati lawan bicaranya disebabkan karena umurnya ataupun kedudukannya.
Nah, dalam aturan tata bahasa baik karama madya maupun krama inggil itu memang ada aturan-aturannya. Misalnya, kita tidak boleh mengkrama inggilkan diri kita sendiri. Sebagai contoh kalau kita akan bicara kepada orang lain, apalagi orang itu lebih tua dari kita begini : "Kula bade maringi" itu salah, harusnya "kula bade ngaturi" atau "kula bade nyaosi". Dan banyak lagi contoh yang lainnya, saya kira Kang Irawan juga sudah mafum.
Jadi sebenarnya itu sih bukan unggah ungguh, tapi lebih kepada perbaikan tata bahasa saja. Kalau unggah ungguh itu dinilai dari sopan atau tidaknya sikap kita terhadap orang lain. Sementara kalau kesalahan bahasa itu hanya kesalahan penggunaan kata saja.
Jadi kalau Kang Irawan diingatkan oleh seseorang, apalagi itu orang tua, dengan kata-kata yang sopan lagi, diterima saja sebagai bahan koreksi dan jangan dimasukkan hati. Anggap itu sebagai nasehat orang tua terhadap anaknya.
(lanjutan..) awan bicaranya disebabkan karena umurnya ataupun kedudukannya.\n\nNah, dalam aturan tata bahasa baik karama madya maupun krama inggil itu memang ada aturan-aturannya. Misalnya, kita tidak boleh mengkrama inggilkan diri kita sendiri. Sebagai contoh kalau kita akan bicara kepada orang lain, apalagi orang itu lebih tua dari kita begini : \\\"Kula bade maringi\\\" itu salah, harusnya \\\"kula bade ngaturi\\\" atau \\\"kula bade nyaosi\\\". Dan banyak lagi contoh yang lainnya, saya kira Kang Irawan juga sudah mafum.\n\nJadi sebenarnya itu sih bukan unggah ungguh, tapi lebih kepada perbaikan tata bahasa saja. Kalau unggah ungguh itu dinilai dari sopan atau tidaknya sikap kita terhadap orang lain. Sementara kalau kesalahan bahasa itu hanya kesalahan penggunaan kata saja.\n\nJadi kalau Kang Irawan diingatkan oleh seseorang, apalagi itu orang tua, dengan kata-kata yang sopan lagi, diterima saja sebagai bahan koreksi dan jangan dimasukkan hati. Anggap itu sebagai nasehat orang tua terhadap anaknya.\n\nTrimakasih.
Banyumas Arts
Banyumas has various unique arts and cultural aspects. From the magical Ebeg Show which now still being the main cultural show to modernize one like the "Kentongan Orchestra" which is a bamboo musical instrument that played in mass parade. Behind its unique language, this region has the richness of the welknown Javanese culture. The Scultpture arts from Banyumas is not as popular as other part of Java like Jogjakarta with its Prambana...Readmore
About This Place (Banyumas)
The Region that we reveal is located in West side of Central Java, Indonesia and its a rich in culture and art but not yet explored. This cultural richness makes the region with 'ngapak' language a unique and interesting to visit. Explore more and put yourself in an adventure with this funny speaking people.
...Readmore
Goleti With New Face and Features
Happy New Year 2009!! Finally after being a static website goleti.com has a new face and features eventough not as pretty as before in design. With Content Management System enable you as the audience to contribute all your writings, news report, photos and even put their advertisement for your business. We also provide a forum for you to communicate your thoughts and other readers about anything you and limited to Racism, Religion intere...Readmore
Mendoan Banyumas
Mendoan menjadi makanan favorit ribuan orang
terutama yang berasal dari daerah Banyumas dan sekitarnya. Saya sendiri
salah satu penikmatnya apalagi dengan cengisnya. Hmm. Gorengan ini
jugalah yang membentuk image Banyumas dari segi makanannya selain
beberapa jajanan tradisional khasnya. Goleti.com menyediakan halaman
'Kuliner' untuk penikmat makanan daerah atau yang ingin memposting
resep masakan atau profil rumah makan tradisional yang...Readmore